Rabu, 26 Desember 2012

3 dari 5 Software Bajakan di Kawasan Asia Tenggara Terinfeksi Malware Berbahaya

Sebuah studi awal keamanan Microsoft menunjukkan bahwa 63% software bajakan dijajakan di Asia Tenggara - baik melalui DVD atau terinstal pada komputer dengan berisiko tinggi malware.

Dalam sebuah pernyataan hari Kamis 20/12/2012, Redmond mengatakan tim keamanan forensik  telah bekerja pada 118 sampel perangkat lunak bajakan yang dibeli dari reseller di Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand dan Vietnam. Mereka menemukan sekitar 2.000 kasus infeksi malware dan virus dalam sampel yang meliputi "backdoors, hijackers, droppers, bots, crackers, pencuri password, dan Trojans".
Studi ini juga menemukan bahwa di antara komputer dengan sistem operasi Windows (OS) bajakan, 77 % dari fungsi Windows Update telah dinonaktifkan atau kembali dialihkan ke layanan pihak ketiga. Raksasa software ini mengatakan PC dengan Windows Update cacat melewati pemeriksaan software asli dan ditolak patch keamanan penting yang menyebabkan rentan terhadap serangan cyber berbahaya.

Direktur Legal dan Korporasi Asia Pasifik dan Jepang Microsoft, Jeff Bullwinkel mengatakan bahwa pembajakan software merupakan awal kemunculan dari cybercrime. Terlebih software bajakan bisa diperoleh dengan harga yang jauh lebih murah ketimbang software asli.

Microsoft menambahkan saat ini memperluas penelitian di Asia Tenggara untuk meningkatkan ukuran sampel dari PC dan DVD yang berisi perangkat lunak bajakan. Ia mengharapkan untuk mempublikasikan hasil studi penuh dan analisis selama kuartal pertama tahun 2013.

Pada pertengahan Mei dilaporan juga oleh Business Software Alliance (BSA) yang mempublikasikan sekitar 63% dari pengguna komputer di Asia-Pasifik mengaku menggunkana software bajakan, di atas rata-rata global 57%. Pembajakan perangkat lunak pada tahun 2011 mengakibatkan kerugian hampir US $ 21 miliar untuk perusahaan perangkat lunak baik itu sistem operasi maupun software berlisensi lainnya.
via: zdnet

0 komentar:

Posting Komentar